Berita 16 Apr 2026

Suasana Kamis Pon Di SMP N 3 Imogiri

Suasana Kamis Pon Di SMP N 3 Imogiri

SMP N 3 Imogiri Hidupkan Roh Budaya Lewat Peringatan Kamis Pon

IMOGIRI – Suasana di SMP N 3 Imogiri pada Kamis (16/4) tampak berbeda dari hari biasanya. Riuh rendah siswa yang biasanya dibalut seragam biru-putih, kini berganti menjadi pemandangan yang anggun dan berwibawa. Seluruh warga sekolah, mulai dari siswa, guru, hingga staf karyawan, serempak mengenakan Busana Tradisional Gagrag Ngayogyakarta dalam rangka memperingati hari Kamis Pon.

Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas mengganti kostum, melainkan upaya nyata sekolah untuk melakukan pelestarian budaya sejak dini. Tujuannya jelas: agar siswa SMP N 3 Imogiri tidak hanya "tahu" identitasnya sebagai warga Yogyakarta, tetapi juga "mengerti" dan menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.

Edukasi Pakem di Tengah Keseruan

Di tengah kemeriahan acara, sekolah menyelipkan edukasi penting mengenai aturan berbusana yang benar sesuai dengan regulasi Pemerintah Daerah DIY (Pergub No. 75 Tahun 2016). Siswa diajarkan bahwa setiap elemen pakaian tradisional memiliki makna filosofis yang dalam:

  • Siswa Putra (Surjan & Lurik): Para siswa tampak gagah mengenakan surjan bermotif lurik. Mereka belajar bahwa tiga pasang kancing di leher melambangkan Rukun Iman, sementara pemakaian blangkon model mondholan di belakang menjadi ciri khas tak terpisahkan dari Gagrag Ngayogyakarta. Tak lupa, kain batik (jarik) harus di-wiru dengan arah lipatan menghadap ke kanan.
  • Siswi Putri (Kebaya Kartini): Para siswi tampil anggun dengan kebaya model tangkepan. Mereka diedukasi untuk melipat wiru jarik ke arah kiri, yang secara simbolis melambangkan kesabaran dan kelembutan. Penggunaan kerudung bagi yang muslim pun disesuaikan agar tetap selaras dengan estetika tradisional.

Pesan Kepala Sekolah

Kepala SMP N 3 Imogiri Ibu Supriyatmi, S.Pd. menegaskan bahwa konsistensi dalam mengenakan busana adat ini adalah kunci keberhasilan pelestarian budaya. Dalam sambutannya, beliau memberikan pesan mendalam bagi seluruh siswa:

"Anak-anakku, mengenakan Busana Gagrag Ngayogyakarta setiap Kamis Pon bukan sekadar mematuhi aturan seragam sekolah. Ini adalah wujud penghormatan kita terhadap warisan leluhur. Saya minta kalian selalu menjaga komitmen ini dengan rasa bangga. Ingatlah, saat kalian mengenakan busana ini, kalian sedang membawa identitas, sopan santun, dan martabat budaya kita. Jadikan ini kebiasaan yang melekat di hati, bukan sekadar kain yang menempel di badan."

Menanamkan Karakter dan Adab

Selain aspek lahiriah, momen Kamis Pon ini digunakan sebagai ajang praktik bahasa Jawa Krama Inggil. Interaksi antara siswa dan guru dialihkan menggunakan bahasa ibu yang santun, guna menumbuhkan karakter unggah-ungguh (tata krama) yang mulai luntur di era digital.

Dengan adanya kegiatan ini, SMP N 3 Imogiri berharap para siswa dapat menjadi agen pelestari budaya yang memahami bahwa setiap kancing, lipatan kain, dan tutur kata dalam tradisi Jawa adalah cerminan budi pekerti yang luhur.